Anak Jadi Korban Penganiyaan di Ponpes, Wali Santri di Palembang Temui Hotman Paris

0 21

Palembang, Pena Sumatera – Soima, Wali Santri Albar Mahdi yang meninggal.dunia diduga dianiaya seniornya dari salah satu pesantren ternama di Jawa Timur tepatnya di Ponorogo  temui Hotman Paris pengacara kondang yang sedang berkunjung ke Palembang. Dengan berurai air mata, ibu tiga anak ini menceritakan kisah anaknya yang dikembalikan pihak pesantren dalam keadaan sudah dibungkus kain kafan.

Seperti diungkapkannya “Saya membutuhkan keadilan atas meninggalnya putra pertama saya, selaku Umi dari Albar Mahdi siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo asal Palembang mohon keadilan kepada semua pihak agar bisa membantu saya, ini sungguh miris, tragis dan menyakitkan hati saya dan keluarga tidak ada kabar sakit atau apapun itu dari anak saya, tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1, bawah anak saya telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20 wib. Padahal di surat keterangan yang saya terima putra saya itu meninggal pada pukul 06.45 WIB, ada apa! rentang waktu itu menjadi pertanyaan keluarga kami,” terangnya.
Minggu (04/09/22). Diakuinya, saat mendengar berita itu ia bersama sang suami kaget dan tidak bisa berpikir apa-apa dan berharap kedatangan ananda ke Palembang meskipun hanya tinggal mayat. “Akhirnya almarhum tiba di Palembang pada Selasa siang, 23 Agustus 2022 diantar oleh pihak Gontor 1 dipimpin ustad Agus, itupun saya tidak tahu siapa ustad Agus itu, hanya sebagai perwakilan. Dihadapan pelayat yang memenuhi rumah saya disampaikan kronologi bahwa anak saya terjatuh akibat kelelahan mengikuti Perkemahan pada hari Kamis-Jumat (Perkajum),” bebernya. Menurutnya, anaknya itu dipercaya sebagai Ketua Perkajum, mungkin alasan itu, ia bisa terima bila sesuai dengan kenyataan kondisi mayat anaknya. Tetapi karena banyak laporan-laporan dari wali santri lainnya, bahwa kronologi tidak demikian, kami pihak keluarga meminta agar mayat dibuka. Sungguh sebagai ibu saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian begitu juga dengan keluarga, amarah saya tak terbendung kenapa laporan yang disampaikan berbeda dengan kenyataan yang diterima. Merasa tidak sesuai, akhirnya saya menghubungi pihak forensik dan pihak rumah sakit yang sudah siap melakukan otopsi. “Namun, setelah didesak pihak dari Gontor 1 yang mengantar jenazah akhirnya mengakui bahwa anak saya meninggal akibat terjadi kekerasan. Saya pun tidak bisa membendung rasa penyesalan saya telah menitipkan anak saya di sebuah pondok pesantren yang nota bene nomor satu di Indonesia,” ujarnya. Lebih lanjut dikatakannya, setelah ada pengakuan telah terjadi tindak kekerasan di dalam pondok Ia memutuskan untuk tidak jadi melakukan otopsi agar jenazah anaknya segera bisa dikubur mengingat sudah lebih dari satu hari perjalanan dan saya tidak rela tubuh anaknya diobrak-abrik. Keputusan saya untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum pada saat itu didasari banyak pertimbangan. Karena itu kami membuat surat terbuka yang intinya ingin ketemu sama Kyai di Gontor 1, pelaku dan keluarganya untuk duduk satu meja ingin tahu kronologis hingga meninggalnya anak kami.  Tapi sampai saya membuat tulisan ini, Rabu 31 Agustus 2022 belum ada kabar atau balasan dari surat terbuka tersebut padahal kami selaku keluarga korban. Saya tidak ingin perjuangan anak saya Albar Mahdi siswa Kelas 5i Gontor 1 Ponorogo sia-sia. Ia juga berharap, jangan lagi ada korban-korban kekerasan bukan hanya di Gontor tetapi di pondok lainnya hingga menyebabkan nyawa melayang, tidak sebanding dengan harapan para orang tua dan wali santri untuk menitipkan anaknya di sebuah lembaga yang dapat mendidik akhlak para generasi berikutnya. Iapun menyampaikan sembari membaca surat terbukanya itu, semoga tulisan ini membuka mata masyarakat bahwa memperjuangkan kebenaran dibutuhkan keberanian. “Dari saya, Soimah wali santri Albar Mahdi bin Rusdi yang masih berharap ini hanya MIMPI dan merasa anak saya belum pulang menimba ilmu. Sementara itu, Hotman Paris menyarankan saya harus melakukan laporan BAP ke pihak berwajib di Jawa Timur dimana lokasi anaknya meninggal. Nanti akan saya bantu, ajukan dulu laporannya kata Hotman.” pungkasnya. (*/fie)
Baca Juga
Penasumatera