Badai Reda, Krisis Sembako Pulau Enggano Segera Teratasi

Hampir 2 Bulan Masyarakat Enggano Alami Krisis Sembako

0 110

BENGKULU UTARA, Penasumatera.co.id – Sejak fenomena alam (badai) yang melanda laut Bengkulu, hampir dua bulan lamanya masyarakat yang berada di pulau terluar Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu, dilanda krisis Sembako.

Eka Hendriadi, MH Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bengkulu Utara kepada media ini, Sabtu (11/08/2018) membenarkan
hal tersebut, saat ini masyarakat enam Desa di Pulau terluar Kecamatan Enggano yaitu Desa Malakoni, Kahyapu, Kaana,
Meok, Apoho dan Banjarsari. Mengalami krisis sembako mulai dari Beras, minyak manis, gula dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sementara untuk memperoleh sembako mereka harus membayar dua sampai tiga kali lipat dari harga normal, mereka memperoleh dari cadangan yang ada di warung-warung.

Lebih lanjut Eka menyampaikan Alhamdulillah sejak kemarin situasi badai sudah reda, pada Jum’at (10/08) sore, kapal Pulo Tello sudah merapat ke Pelabuhan Pulau Enggano. Kemudian pada Sabtu (11/08) sore ini, dipastikan kapal Perintis Sabuk Nusantara juga merapat ke Pulau Enggano.

“Mudah-mudahan dengan merapatnya kedua kapal ini dengan membawa sembako, untuk suplai sembako yang diangkut oleh kapal Pulo Tello dan Perintis ini, dapat mengatasi krisis sembako yang telah melanda Enggano kurang lebih dua bulan lamanya”, sampainya.

DItambahkannya, untuk suplai Bahan Bakar Minyak (BBM), kemungkinan kalau tidak ada halangan saat berlayar selama 12 jam menuju pulau terluar Kecamatan Enggano, insyaallah Minggu sore atau Senin pagi besok, kapal pembawa BBM ini sudah merapat di Enggano.

Ditanya mengenai dampak pasca badai yang melanda pulau Enggano. Eka mengatakan masyarakat yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan tak bisa melaut dan juga arus transportasi antar desa bisa dikatakan lumpuh, untuk sementara waktu.

“Kita mengharapkan selain pertamina satu harga di pulau Enggano yang merupakan bentuk kepedulian pemerintah pusat. Kedepanya kita juga berharap kepada Pemerintah Daerah atau Provinsi adanya pembangunan gudang untuk penyimpanan sembako, tujuannya tidak lain untuk mengatasi krisis sembako, misalkan ada badai sampai satu, dua atau tiga bulan lamanya, masyarakat pulau terluar Enggano tidak perlu khwatir lagi karna stok sembako ada digudang pemyimpanan, itu tujuan kita”, jelas Eka

Disisi lain pula Eka mengatakan, untuk suplai stok sembako di gudang bisa kita selaraskan dengan tol laut yang ada di indonesia, karena rute tol laut itu membawa bermacam (seluruh) bahan pokok, mereka ada rute ke Enggano.

“Kalau memang ada sirkulasi seperti itu, misal kembali terjadinya fenomena alam (badai) ataupun itu kapal naik DOK tiap tahun di Jakarta untuk perbaikan. Jadi masyarakat tidak akan mengalami kesulitan, terang Eka lagi.

Lanjut ia menyampaikan semenjak fenomena alam melanda laut Bengkulu hampir dua bulan lamanya, masyarakat di pulau terluar Enggano sudah berkeluh kesa, beberapa dari mereka menyampaikan surat melalui Kecamatan mohon tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan yang sama kedepanya. Ini bukan terjadi kali ini saja sebelumnya krisis sembako di pulau Enggano sebelumnya memang pernah terjadi tapi tidak sampai separah ini.

Ditambah lagi, tranportasi udara sampai sekarang belum ada, memang sempat pesawat Susi Airlines menjadi alat transportasi menuju Enggano, “karna tahun ini sudah habis kontrak Susi Airlines tidak lagi melayani penerbangan udara ke pulau terluar Enggano. Untuk tindak lanjut, itukan kewenangan Provinsi dan berkoordinasi dengan Kementrian Perhubungan yang ada di pusat (Jakarta), atas hal ini kami sangat mengharapkan ada maskapai lain yang bisa membantu transportasi menuju pulau terluar Enggano,” Tutup Eka.

(yapp)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.