CAMPUS ONLINE TALK SHOW “GERAK BERSAMA CIVITAS ACADEMICA LAWAN KEKERASAN SEKSUAL”

0 40

Jakarta, Pena Sumatera co.id — Kampanye Stop Sexual Violence The Body Shop® Indonesia bersama Magdalene.co dan Yayasan Pulih menggelar rangkaian Campus Online Talkshow Series yang keempat (26/02) dengan tema: “Gerak Bersama Civitas Academica Lawan Kekerasan Seksual”. Kegiatan ini merupakan upaya The Body Shop® Indonesia dengan Magdalene.co untuk mengedukasi berbagai lapisan masyarakat, terutama civitas academica untuk berjuang bersama mendorong pengesahan RUU PKS serta membangun awareness dan edukasi untuk masyarakat khususnya para generasi muda.

Indonesia sedang berada dalam situasi gawat darurat kekerasan seksual. Pernyataan ini senada dengan munculnya data dan fakta terbaru yang menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di Indonesia semakin tinggi. Hasil studi kuantitatif yang dilakukan oleh International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) melaporkan bahwa 5 dari 7 orang pernah mengalami kekerasan seksual semasa hidupnya. Dari angka tersebut, 77,2 persen telah mengalaminya di tempat umum. Sayangnya, tempat-tempat umum tersebut tidak terbatas pada taman, mall atau jalan trotoar. Lingkungan universitas dan kampus juga telah menjadi lokasi yang rawan terhadap kekerasan seksual, dengan banyaknya berita isu pelecehan seksual yang terus terjadi di kampus di seluruh Indonesia.

Institusi pendidikan memiliki kesempatan menjadi garda terdepan menyalurkan informasi dan edukasi seputar masalah kekerasan seksual. Menurut hasil studi oleh International NGO Forum on Indonesia Development (INFID), mayoritas orang memperoleh informasi tentang pencegahan kekerasan seksual di media massa dan institusi pendidikan, seperti sekolah (51,9 persen) dan kampus (46,6 persen). Data tersebut membuktikan bahwa kesempatan kampus untuk membawa perubahan dalam bentuk awareness dan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa, dosen dan organisasi-organisasi yang terlibat dalam universitas adalah tokoh kunci dalam pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Ratu Ommaya – Public Relations and Community Manager The Body Shop® Indonesia mengatakan bahwa Campus Online Talkshow adalah upaya The Body Shop Indonesia untuk mengedukasi seluruh lapisan masyarakat untuk peduli terhadap isu kekerasan seksual. Campus Online Talkshow mengundang Civitas Academica yang dianggap sebagai elemen penting dalam mengawal isu kekerasan seksual. The Body Shop Indonesia mengajak Dosen, Mahasiswa, dan seluruh badan kepengurusan kampus untuk ambil bagian dalam usaha pengesahan RUU PKS dan lawan kekerasan seksual.

Melalui kampanye ini The Body Shop® Indonesia mengajak masyarakat terlibat aktif dengan berpartisipasi melalui donasi di seluruh gerai The Body Shop® dan secara online, juga pengumpulan petisi di https://www.tbsfightforsisterhood.co.id/. Sejak pertama kali diluncurkan 5 November 2020 telah terkumpul donasi dan juga melalui petisi per 22 Februari sebanyak 360.631 tanda tangan dan kita masih terus meminta dukungan hingga mencapai 500.000 tanda tangan yang akan dilakukan sampai bulan Maret 2021 agar RUU PKS segera diputus menjadi undang-undang yang sah. RUU PKS merupakan kebutuhan semua pihak di Indonesia, sehingga harus ada gerakan bersama untuk mewujudkannya.

Nirmala Ika Kusumaningrum – M. Psi., Psikolog Yayasan Pulih mengatakan bahwa kekerasan seksual di dalam lingkungan kampus sering kali tidak tertangani dengan baik karena kurangnya pemahaman akan kekerasan seksual itu sendiri maupun karena belum adanya kebijakan yang mampu secara menyeluruh mengatasi hal tersebut.

Disahkannya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan  Seksual akan menjadi sebuah payung hukum untuk mendorong setiap institusi pendidikan secara serius membentuk kebijakan dan standar operasional yang dapat membantu penanganan korban kekerasan seksual secara lebih komprehensif.

Kalis Mardiasih – Pemerhati Isu Gender, Penulis mengatakan bahwa lembaga pendidikan harus menjadi ruang aman untuk semua orang. Akan tetapi, data investigasi liputan #namabaikkampus memaparkan kekerasan seksual di lingkungan kampus tinggi dengan beragam kampus. Lebih disayangkan lagi, karena kasus-kasus tersebut tak terselesaikan hingga hari ini. Perlu langkah strategis dari kampus, berupa edukasi pencegahan kekerasan seksual perspektif korban, membentuk layanan aduan kasus kekerasan seksual di kampus dan SOP penanganan kasus KS di kampus.

Yanuarisca N.C.P. – Ketua BEM Fakultas Psikolog Universitas Diponegoro 2021 mengatakan bahwa webinar kali ini mengusung tema Gerak Bersama Civitas Academica : Lawan Kekerasan Seksual, menjadi sebuah langkah konkret bagi penggiat dan aktivis anti sexual violence untuk menyuarakan dan memasifkan keresahan. “Siapa yang tidak setuju dengan pernyataan Sexual Violence merupakan tindakan yang tercela? Sexual Violence bukan hanya tentang dampak fisik, tapi ini juga berdampak pada psikis korban,” kata Yanuarisca.

Yanuarisca  menambahkan bahwa bergerak bersama organisasi mahasiswa adalah sebuah usaha yang sangat tepat karena mahasiswa, dengan berbagai macam idealismenya, serta pengalaman nyata dalam kesehariannya sebagai generasi Z yang terdidik, juga mempunyai power tersendiri untuk menyuarakan keresahannya tentang sexual violence in campus.

Zeni Tri Lestari – Waka Dept. Kajian dan Aksi Strategis BEM FISIP UI 2021 mengatakan bagi dia secara personal tema ini memiliki urgensi untuk dibahas. Kampus sampai sekarang belum juga menjadi tempat yang aman dan bebas dari kekerasan seksual, meskipun sudah terlalu banyak kasus bermunculan. Setidaknya itu yang dirasakan Zeni dan teman-teman di lingkungan kampus. Inisiatif dari mahasiswa telah banyak bermunculan. Aksi, propaganda, kampanye, audiensi, rekomendasi kebijakan, dan banyak lainnya. Nyatanya upaya itu belum cukup, dan Zeni menyadari bahwa tujuan dari gerakan ini adalah desakan bagi mereka yang berwenang untuk memberikan jaminan keamanan terhadap kekerasan seksual dalam bentuk peraturan hukum.

Tidak hanya itu, tema ini juga penting bagi gerakan anti kekerasan seksual secara keseluruhan. Harapannya, semangat membahas dan mengawal isu kekerasan seksual dapat menular pada kelompok masyarakat lainnya, tidak hanya bagi kelompok civitas academica saja. Semakin banyak perhatian terhadap isu ini, semakin besar pula gerakan dan dampak yang akan diberikan.

Putri I. Sharafina – President of Girl Up Universitas Padjadjaran mengatakan bahwa kekerasan seksual masih menjadi hal yang sensitif dan cukup tabu sehingga seringkali dihindari dari topik pembahasan. Komunitas dan organisasi mahasiswa berperan penting untuk menumbuhkan awareness terhadap permasalahan ini dengan tidak takut untuk membahas, mengawal, dan memberikan tempat untuk permasalahan kekerasan seksual diperbincangkan.

Meskipun begitu, perlu adanya kolaborasi dari berbagai organisasi mahasiswa untuk membangun awareness hingga akhirnya dapat mengambil aksi nyata ini di setiap kampus. Tidak cuma mahasiswa, dukungan dari para dosen pun juga diperlukan untuk memperkuat perlawanan terhadap kekerasan seksual. Karena perjuangan itu tidak bisa sendiri, perjuangan itu harus kolektif.(ofie)

Baca Juga
Penasumatera