Desakan Pencopotan Jabatan Direktur RSUD Kayuagung Semakin Menguat

0 223

KAYUAGUNG, penasumatera.co.id – Berbagai keluhan terhadap pelayanan kesehatan RSUD Kayuagung menyisakan desakan agar rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang dipimpin Fikram segera dicopot jabatannya sebagai Direktur.

Fikram dianggap bertanggung jawab akan berbagai keluhan pelayanan medis yang diduga disebabkan keterbatasan tenaga medis dan faktor internal mengenai prosedural medis lainnya sehingga bukan tidak mungkin dapat berpotensi  pada kematian pasien.

Terlebih lagi, mencuat kabar dari warga Tanjung Alai Sp Padang yang harus merelakan anaknya meregang nyawa sesaat setelah proses persalinan. Kematian jabang bayi ini sendiri, ditenggarai lantaran lambatnya proses persalinan yang sejatinya memerlukan tindakan operasi atau perawatan prioritas medis ini justru pasien harus menunggu hingga beberapa jam kemudian.

Carut-marut manajemen rumah sakit milik pemerintah ini pun tidak lepas dari sorotan. Berbagai keluhan dari petugas rumah sakit sendiri juga terdengar terkait tunggakan jasa medis yang belum dibayarkan hingga 6 bulan.

Kisruh persoalan RSUD Kayuagung tak urung membuat Anggota Komisi IX Irma Suryani Chaniago angkat bicara. Menurut politisi Nasdem ini, atas semua persoalan yang menggelayut di rumah sakit plat merah ini, memang sudah selayaknya menuntut pertanggungjawaban Direktur sebagai pimpinan rumah sakit.

Anggota DPR Dapil II Sumatera Selatan ini menilai, manajemen rumah sakit seharusnya dikelola dengan profesional sehingga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ini tidak mengalami permasalahan keuangan, sehingga persoalan pembayaran tenaga medis hingga 6 bulan tidak terjadi.

Terkait dugaan kelalaian yang berakibat hilangnya nyawa, dengan tegas Irma meminta Bupati OKI segera memecat Direktur RSUD Kayuagung,

“Saya meminta Bupati OKI untuk mengganti direktur RSUD Kayuagung dan memberikan sanksi pada para medis yang telah mengabaikan kondisi gawat darurat pada pasien tersebut,” tegas Irma ketika dihubungi pewarta media melalui chat Whatsapp Jumat (30/11/2018).

Sementara itu, Tokoh Pemuda OKI Welly Tegalega mengungkapkan kemelut di RSUD Kayuagung merupakan bola salju dari pengelolaan manajemen yang buruk. Dirinya pesimis rumah sakit akan berjalan baik jika tata kelola intern masih menggunakan pola lama.

“Tentunya muara persoalan ini dari pimpinan yang tidak bisa dikatakan tidak menguasai bidangnya. Jika kecakapan personalnya mumpuni, semestinya dengan kewenangannya sebagai Direktur permasalahan di rumah sakit ini tidak terus berlarut-larut seperti sekarang ini,” ujarnya.

Diakui Welly yang tidak heran dengan buruknya pelayanan medis. Dirinya justru menganggap kewajaran atas dugaan kematian yang diduga oleh kelalaian tenaga medis.

Menurutnya, keterlambatan pembayaran tenaga medis pangkal persoalan dari pelayanan terhadap pasien.

“Logikanya, wajar saja tenaga medis terkesan ogah-ogahan melayani pasien. Bagaimana mereka (petugas medis-red) bisa konsentrasi bekerja dengan baik jika hak mereka tidak terbayarkan hingga berbulan-bulan,” tuntasnya

Ditambahkannya, dengan berbagai desakan pencopotan jabatan ini, dirinya berharap Direktur RSUD dapat legowo untuk mundur secara terhormat,

“Melihat permasalahan yang tidak kunjung ada solusi, Saya rasa mundur dari jabatan lebih terhormat, ketimbang dimundurkan paksa,” tegasnya (Rachmat Sutjipto)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.