Direktur Sejarah: Pemandu Wisata Sudah Seharusnya Melek Sejarah

0 26

BALI, Penasumatera.co.id – Hari keempat kegiatan peningkatan kompetensi bagi para pemandu wisata sejarah di Bali, peserta melakukan kunjungan (ekskursi) ke berbagai objek sejarah.

Secara umum peningkatan komptensi dibagi dua kegiatan, yaitu kegiatan belajar di dalam kelas atau indoor, maupun studi lapangan atau outdoor.

Direktur Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, Triana Wulandari memberikan arahan dan pesan kepada seluruh peserta kegiatan.

“Bali memiliki destinasi wisata luar biasa, begitu pula dengan para pemandunya. Saya kira pemandu wisata sebaiknya memiliki kemampuan membuat narasi agar menambah daya tarik bagi para wisatawan, ” ujar Triana di Bali, Kamis (26/7/2018).

Ketua penyelenggara kegiatan, Saptari Novia Stri, mengatakan, hari keempat para peserta melakukan ekskursi ke berbagai objek sejarah, di antaranya Museum Bali, Monumen Perjuangan Rakyat Bali serta Goa Gajah.

“Tiga hari sebelumnya, yaitu 23 hingga 25 Juli 2018, peserta mendapatkan materi kesejarahan, seperti Pengetahuan Sejarah untuk Pariwisata, Sejarah Lokal untuk Pariwisata, Sejarah Publik untuk Pariwisata, Toponimi, serta Teknik Kepemanduan dengan Konten Sejarah,” katanya.

Direktorat Sejarah menyelenggarakan kegiatan pengayaan bagi pemandu wisata sebagai wujud nyata komitmen untuk terus berupaya meningkatkan dan memperkaya substansi sejarah dalam dunia kepariwisataan Indonesia.

Kegiatan ekskursi menghadirkan narasumber Dr. Dewa Budiana dan Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana mendampingi peserta untuk menyampaikan informasi terkait kesejarahan dari berbagai objek sejarah yang dikunjungi.

Salah seorang peserta, Ni Nengah Sudiastrini dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya yang telah melakoini pekerjaan sebagai pemandu wisata.

“Saya bersyukur sekali bisa mengikuti kegitan ini, sebab bisa mendapatkan berbagai informasi dan pengetahuan tentang sejarah. Tapi mungkin perlu ada materi tambahan tentang kebudayaan lokal, ” katanya.

Hal senada diungkapkan dua peserta lainnya, Gede Sukarya dan Ari Pemayun, yang menyarankan agar penyajian materi lebih disesuaikan dengan budaya lokal, Bali.

“Untuk teknik penyajian agar lebih bersifat deskriptif dan praktis. Secara umum kegiatan ini sangat bermanfaat dan kami meminta waktu untuk menyampaikan beberapa saran dan rekomendasi, ” ungkapnya.

Kesan dan pesan dari peserta menjadikan acara ini berlangsung dengan lancar. Juga, akan diagendakan menjadi acara rutin di berbagai daerah lain di seluruh Indonesia.

Secara resmi kegiatan peningkatan kompetensi bagi pemandu wisata sejarah di Bali akan ditutup pada 27 Juli 2018, pukul 20.00 WITA. (ril/Direktorat SejarahDitjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.