Industri Migas Sumsel Dibayangi PHK

0 15

PALEMBANG – Harga minyak dunia yang terus merosot  memaksa perusahaan minyak dan gas bumi (migas) melakukan berbagai upaya supaya bisa bertahan di tengah gejolak harga. Salah satu upaya yang sangat mungkin terjadi adalah pemutusan hubungan kerja (PHK).

 “Tahun lalu memang ada beberapa laporan pemangkasan karyawan, ini dilakukan karena gejolak perekonomian saat itu. Untuk tahun ini belum ada laporan terkait PHK, jika terus merosot bukan tidak mungkin akan terjadi PHK,” Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas, Tirat Sambu Ichtijar, baru-baru ini.

 Dia mengatakan, jika harga minyak dunia terus anjlok perusahaan harus melakukan upaya penghematan termasuk pengurangan karyawan untuk mengurangi pengeluaran biaya. “Kalau harga terus turun, artinya pendapatan berkurang, perusahaan harus melakukan penghematan. Sementara pengurangan karyawan jalan terakhir yang dilakukan,” katanya.

Namun pihaknya berharap agar perusahaan dapat melakukan penghematan semaksimal mungkin dengan kondisi saat ini, tidak semerta-merta melakukan PHK

Sebenarnya, Tirat mengklaim kondisi pengurangan karyawan ini terlalu dini dengan kondisi saat ini, sebab harga migas masih fluktuatif dan masih banyak kemungkinan harga bisa membaik, sehingga tidak perlu ada pengurangan karyawan.

“Tahun ini belum ada yang mengajukan untuk melakukan pengurangan karyawan, termasuk juga perusahaan yang tutup sejauh ini belum ada, bahkan sejak beberapa tahun lalu belum ada perusahaan yang tutup,” tuturnya.

Terkait produksi minyak mentah di Sumsel, dia mengatakan 2016 belum mendapat laporan, namun secara nasional produksi rata-rata mencapai 816.000 barrel per hari (bopd). “2016 belum ada, namun untuk nasional 816.000 bopd,” tukas dia.

Sementara itu, Manager Communication and Relation Pertamina Sumbagsel Makasin mengatakan untuk distribusi minyak ke pelanggan, hingga saat ini tidak ada masalah. Pihaknya tetap melakukan supplai sesuai Pihaknya tetap melakukan supplai sesuai dengan kuota yang ditetapkan.

“Harga terus anjok bukan berarti supplai minyak mentah ini dikurangi, untuk produksi di

Refinery Unit (RU) III saat ini tetap produksi sesuai dengan kapasitas produksi dan Pertamina sangat menjaga distribusi sampai ke konsumen,” tuturnya.

Untuk suplai minyak mentah ke RU III dia mengatakan bisa dilakukan produksi 100.000 sampai 125.000 barel per hari. Untuk saat ini pun produksi masih normal, sehingga tidak ada pengaruh terhadap distribusi di Sumbagsel.

“Pertamina berharap agar kondisi ini bisa pulih dan kondisi saat ini bersifat fluktuatif, sehingga minyak mentah yang disuplai tidak berdampak karena harga yang anjlok,” katanya.(Putra)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Penasumatera