Kasus Persekusi Bagi Warga Trans di Muratara Kian Mengkhawatirkan

Ratusan warga Dusun V, Desa Trans Air Bening Datangi Rumah Wakil Bupati Minta Perlindungan

0 503

MURATARA, Penasumatera.co.id – Ratusan warga Dusun V, Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, datangi rumah wakil Bupati Muratara, Sabtu (17/11) sekitar pukul 14.23 WIB, meminta perlindungan keamanan.

Warga mengaku, resah, terancam, tanah mereka dirampas, rumah dibakar, diusir dari permukiman, pengajian dibubarkan dan tidak boleh melaksanakan jum’atan. Aksi rasis dan anarkis itu, dilakukan oleh oknum warga setempat berinisial JS yang mengklaim lahan milik warga.

Sungkono, warga Dusun V, Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara bersama ratusan warga pendatang, mengaku, rata-rata warga pendatang di Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, sudah tinggal di wilayah Muratara sejak 2015. Mereka awalnya direkrut oleh JS, dengan membayar uang Rp300 ribu untuk pembelian satu paket lahan perkebunan dengan surat kepemilikan.

Namun, lanjut sungkono, setelah warga menggarap lahan berupa semak belukar dan hutan ilalang, mereka mendapat intimidasi dari JS dan keluarganya. JS menuding pendatang tersebut merampas lahan miliknya dan meminta uang tebusan Rp5 juta/ hektar, Selain intimidasi, semua aktivitas warga yang berkumpul seperti hajatan, jum’atan dan peribadatan dilarang hingga di bubarkan.

“Kami resah dan selalu diancam, kami sudah tidak nyaman karena selalu di ganggu. Kami sudah melaporkan kejadian itu ke kepala Desa, lalu ke pihak kepolisian,” bebernya.

Warga mengaku, surat kepemilikan dan jual beli di ambil kembali oleh JS. Lalu JS‎ selalu menggunakan Sajam dan senjata api rakitan, bukan hanya terhadap kepala keluarga namun seluruh keluarga pendatang menjadi korban pengancaman.

Sementara itu, Giman salah satu warga yang ikut diancam JS, mengaku sudah selama 4 bulan terakhir dia terusir dari kampung tersebut. Dia tidak bisa pulang karena takut dicari pelaku dan rumahnya sempat dibakar. “Saya dipaksa membayar Rp5 juta untuk mendapat lahan yang sudah saya garap. Tadinya kita beli satu paket Rp300ribu, berupa hutan dan semak belukar. Tapi setelah kami garap dan ditanami, kebun kami diambil,” bebernya.

Warga mengaku, setiap permasalahan itu terjadi JS selalu membawa mereka ke pemerintahan Desa Ketapat Bening, sementara lahan itu berada di Desa Air Bening. “Kami minta Kepala Desa Kami untuk memfasilitasi masalah itu, sampai ke pihak kepolisian. Kami minta tolong pak, lindungi kami, kami datang ke sini mau mencari hidup, sekarang kami tidak nyaman lagi karena selalu diancam,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Desa Air Bening Marsup mengatakan, setidaknya ada sekitar 67 Kepala Keluarga warga pendatang yang mendapat intimidasi dan pengancaman dari JS. Dia mengatakan, awalnya lahan yang dijual JS tersebut merupakan eks lahan PT Barito di Desa Air Bening.

Dia membenarkan, banyak laporan dari warga pendatang yang merasa terancam, sampai dianiaya, Di Desa Air bening juga sempat terjadi intimidasi ke ranah penganiayaan terhadap beberapa warga pendatang, bahkan sampai insiden pembacokan dan penusukan dengan sajam oleh JS.

“Kita sudah fasilitasi melapor ke pihak kepolisian, Kami kasihan dengan mereka, walaupun mereka pendatang tetapi mereka manusia dan berhak mendapatkan kesamaan di mata hukum,” ungkapnya.

Dia juga sengaja membawa warga Trans Air Bening, menghadap Bupati dan Wakil Bupati Muratara, agar semua keluhan mereka bisa di ungkapkan secara langsung. “Karena sudah dua kali tidak bisa ketemu dengan Bupati, kami akhirnya datang ke wakil Bupati supaya warga bisa mengungkapkan keluhan mereka langsung,” timpalnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni mengatakan, tidak membenarkan adanya pengancaman dan pengusiran terhadap warga pendatang. Meski yang tinggal di Muratara masyarakat dari Jawa, aceh, Padang mereka tetap berhak sama mendapatkan perlindungan dan keamanan.

“Di negara ini tidak boleh ada ancam-ancaman, hidup di NKRI itu cuma satu, patuhi hukum yang berlaku. Mau dari jawa, mau dari Madura, Kalimantan, mau dari bulan. ‎Kalau sudah tinggal di Muratara, mereka warga Muratara dan wajib dilindungi,” tegasnya.

H Devi Suhartoni meminta warga yang terzolimi dan dirampas tanah mereka oleh pelaku, agar membuat daftar secara rinci. Termasuk berkas laporan warga ke pihak kepolisian yang sudah pernah dilaporkan. “Saya akan koordinasi dengan Kapolres dan melaporkan kejadian ini ke Bupati,” ungkapnya.

Wakil bupati Muratara mengaku, cukup kaget dengan laporan warga Desa Air Bening tersebut, terutama terhadap keluhan warga pendatang yang di zolimi, sampai rumah dibakar, pengajian dibubarkan dan pelarangan terhadap kegiatan ke agamaan lainnya.

“Saya sangat kaget jika sampai hak warga diambil‎‎, siapa pun orang di Muratara mau KTP Muratara atau tidak, jika sudah datang dan tinggal di Muratara, wajib di lindungi‎,” tegasnya.(do)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.