Ketua IPSM Bengkulu, Jika Tidak Dicabut Harga TBS Bisa Hancur Lebur

0 318

Bengkulu, Penasumatera.co.id – Ketua Ikatan Petani Sawit Mandiri (IPSM) Provinsi Bengkulu, Edy Mashuri mengatakan ada hal-hal yang dianggap ganjil menurutnya terkait seputar larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/cpo).

Dimana kebijakan tersebut dikeluarkan saat Minyak Goreng (Migor) sudah tidak langka, walau harga mengikuti mekanisme pasar. Juga demikian, menjelang lebaran petani panen serentak, harga Tandan Buah Segar (TBS) biasanya anjlok diperparah lagi dengan kebijakan ini.

Dan jika alasan tersebut demi rakyat, terus 3 juta Kepala Keluarga (KK) petani sawit dianggap apa, dan sebaliknya kenapa tidak terbitkan saja kebijakan menstabil harga pupuk dan Herbisida seperti kebijakan terhadap Migor, terang Ketua IPSM, pada Sabtu (7/05/2022).

“Sangat disangkanlah. Jika alasannya mafia Migor menurut saya bisa dikatakan suatu bentuk kegagalan dalam penegakan hukum, mengapa demikian jika kita melihat kebutuhan domestik CPO hanya 18jt ton per tahun sementara produksi 50jt ton per tahun seharusnya tidak perlu ada kebijakan larangan ekspor”.

Dan lagi, jika tangki timbun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) full terus dan dibuka lagi keran ekspor maka yang untung adalah para cukong (beli TBS murah-red). Dan jika kebijakan tersebut tidak di cabut dalam waktu dekat maka Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak beli TBS petani swadaya, harga TBS hancur lebur.

Lanjut Edy Mashuri, ancaman sanksi kepada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang tidak taat harga TBS tetapan Pemerintah adalah bentuk pencitraan belaka karena Permentan 1/2018 hanya berlaku untuk TBS mitra, dan jika terjadi guncangan pada negara importir CPO maka ada konsekwensi yang harus kita terima dari serangan balik. Tutup Edy Mashuri Ketua IPSM . (yapp)

Baca Juga
Penasumatera