Legenda Bujang Kurap di Festival Danau Rayo Muratara

0 110

MURATARA, Penasumatera – Baru kali ini mau diadakan Festival Danau Rayo, direncanakan tanggal 9 sampai 26 Agustus 2018 seiringan dengan peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73.

Wajar saja kalau ini yang pertama kali, karena 5 tahun yang lalu daerah ini masih masuk ke kabupaten induk, Musirawas. Daerah yang jauh dari pusat pemerintahan semacam ini sering terpinggirkan dalam derap pembangunan, kalau tidak mau dikatakan “di anak tirikan”. Lebih-lebih lagi yang pimpinan daerahnya bukan berasal dari daerah ini.

Danau Rayo cukup potensial untuk dijadikan tempat wisata utama bagi kabupaten baru ini, Musirawas Utara (Muratara). Danaunya luas, lebih kurang lingkarannya 3 km dan kedalamannya 35 meter, alamiah, masih banyak flora dan fauna, terletak di tengah-tengah daerah kabupaten Muratara.

Aksesnya tidak terlalu jauh dari jalan utama Lintas Sumatera dan tidak sampai satu jam perjalanan dari Bandara Silampari Lubuk Linggau Sumatera Selatan. “Daerah ini salah satu objek wisata unggulan di Muratara”, kata Bupati HM. Syarif Hidayat suatu ketika.

Festival yang akan dibuka langsung oleh Bupati Musirawas Utara, HM. Syarif Hidayat ini akan berlangsung selama 17 hari berhimpitan dengan acara Asean Game di Palembang, akan menampilkan serentetan pagelaran dan acara, meliputi Lomba Biduk yg diikuti 150 Tim Lomba atau 2300 personil mewakili masing-masing desa dan kelurahan, ormas kepemudaan, Kantor Dinas di lingkungan Pemda setempat dan lainnya.

Kemudian juga acara, Danau Rayo Mencari Bakat, lomba Marawis, Rabanah, Dangdut, Kesenian Tradisional Gitar Tunggal, Permainan Rakyat Tradisional Gasing, Kelereng, Makanan Tradisional dan Bazar Rakyat ikut meramaikan suasana Festival ini. “Acara ini kami pelaksanaannya, Komunitas Wisata Danau Rayo”, kata Rusli Saleh dengan semangat.

Di balik Danau Rayo ini ada legenda yang menarik. Konon di tahun 1010 tempat ini adalah sebuah desa kecil Kembang Remayu, dengan Kepala Desa/Kerio bernama Cene punya Putri cantik Siti Rohimah.

Zainuddin adik Bujang Kurap tertarik meminang sang putri. Pinangan itu diterima oleh Kerio Cene, dengan syarat Zainuddin harus magang dulu di rumah Cene selama satu tahun untuk diberdayakan tenaganya dalam pengelolaan sawah dan rumah tangga sang calon mertua.

Dalam masa ini pula, setiap malam Minggu diadakan pesta pasangan calon pengantin dengan meriah di pendopo, tempat istana Kerio Cene. Suatu saat pada acara itu datang sang kakak, Bujang Kurap, berniat ingin melihat dari dekat dan tahu bagaimana kelanjutan hal itu lantaran telah lama perjalanan waktunya.

Apa hendak dikatakan, pupuslah sudah niat baik itu. Bujang Kurap kakak kandung Zainuddin tidak diperkenankan masuk pada acara yang sedang digelarkan di atas panggung itu, apalagi disuguhi makan atau jajanan. Dikarenakan penyakit kurap/kulit sepanjang badannya, membuat jijik yang melihatnya. Gundah gulanalah sang kakak.

Kesedihan membuatnya nekat , diambilnya 7 Batang lidi dan ditanamnya dekat arena pesta. Dia tantang, siapa yang bisa mencabut satu persatu lidi ini. Tak ada yang mampu, bahkan Kerio Canepun tak punya tenaga untuk itu.

“Kalau tidak ada yang bisa, sekarang saya saja yang mencabutnya”, kata Bujang Kurap dalam cerita. Satu persatu lidi kelapa itu dia cabut, lidi pertama dicabut keluar air muncrat ke atas, lama kelamaan membesar. Begitupun selanjutnya lidi-lidi itu dicabut sampai yang ke tujuh. Jadilah air bah/banjir bandang dan menenggelamkan panggung tempat pesta bahkan satu desa itu dimakan air.

Tempat peristiwa inilah sampai sekarang digenangi air besar, itulah namanya Danau Rayo. Dan desanya terkenal dengan desa Karang Panggung, diambil dari kata Karam Panggung, panggung yang karam, ditelan air. Karena desa ini sudah hilang, sekarang ganti menjadi desa Karang Anyar dan Karang Waru. (do)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.