Nikmati Keindahan Alam dan Berburu Sejarah di Pagar Alam Heritage Trail 2018

0 57

PALEMBANG, Penasumatera.co.id – Pecinta wisata petualangan dan budaya dapat menyalurkan hobinya “berburu” situs bersejarah sekaligus menjawab tantangan perjalanan menikmati alam di Kota Pagar Alam. Kesempatan ini diberikan dalam even Pagar Alam Heritage Trail 2018, yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) yang bekerjasama dengan Pemprov Sumsel, Pemkot Pagar Alam dan Politeknik Pariwisata Palembang, 7-9 Desember 2018 mendatang.

Even ini merupakan ajang jelajah alam dengan melintasi kawasan di sekitar Gunung Dempo.  Selama tiga hari, peserta diajak menikmati beragam kegiatan yang seru dan menyenangkan. Seperti, lintas alam bersejarah untuk melihat dan mendapatkan pengetahuan tentang situs megalitik di daerah ini, menyusuri desa-desa tua, perkebunan teh dan kopi.

Hari pertama, 7 Desember, ada ziarah Puyang Serunting Sakti di Kelurahan Pelang Kenidai. Mitos tentang Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah sangat terkenal  di wilayah Sumatera Selatan. Hampir semua daerah di provinsi ini mengenal si Pahit Lidah yang terkenal dengan kesaktian ucapannya.

Hari kedua, 8 Desember, digelar Pagar Alam Heritage Walk Trail. Para peserta diajak berjalan sejauh 6 km menyusuri trek  melewati perebunan teh, kopi, persawahan, situs megalitikum, jembatan gantung, dan perkampungan tradisional. Start dan finish lintas alam ini  di lapangan Vila MTQ Kota Pagar Alam.

Hari terakhir, 9 Desember, seluruh peserta dapat menikmati gelar budaya Kampung Plang Kenidai. Beragam kegiatan menarik, mulai dari atraksi dan sarasehan seni budaya, pertunjukan tari kebagh, guritan, pengolahan kopi tradisional, seduh kopi dan tradisi budaya Pantauan. Para peserta dapat mencicipi aneka kuliner khas Pagar Alam yang disajikan di rumah-rumah yang ada di Kampung Plang Kenidai ini.

Peserta Pagar Alam Heritage Trail 2018 ini telah mencapai 681 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa.  Para peserta juga berpeluang memenangi hadiah bernilai total dua puluh juta rupiah.

Pengenalan Sejarah Budaya

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Dr. H. Akhmad Najib, S.H, M.Hum, mengatakan  bahwa Pagar Alam Heritage Trail 2018 merupakan bentuk pengenalan seni budaya, tradisi, dan situs bersejarah di Pagar Alam.  Para peserta dapat melihat keberadaan Megalit Tegurwangi, yang merupakan bukti keberadaan  manusia purba di Kota Pagar Alam, yang diperkirakan berasal dari tahun 5000-2500 SM. Megalit ini juga akan diusulkan untuk menjadi cagar budaya nasional.

Di dusun Pelang Kenidai anda dapat menyaksikan WBTB dari pagaralam berupa Rumah Baghi, tari Kebagh, Guritan yg menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan umumnya dan Pagaralalam khususnya.

Untuk melestarikan budaya dan tradisi Sumatera Selatan, termasuk mengenalkan destinasi wisata provinsi ini, dapat dilakukan dengan beragam aktivitas menarik.  Apalagi, Kota Pagar Alam sudah terkenal dengan keindahan alamnya, tidak hanya dengan panorama Gunung Dempo. Terdapat air terjun seperti Cughup Tujuh Kenangan, Cughup Embun, Cughup Mangkok. Ada pula danau atau tebat, antara lain Tebat Gheban. Hamparan yang “dihias” serakan batu dari tradisi megalit dan hijaunya perkebunan teh menambah pesona itu.

“Daya tarik wisata Pagar Alam luar biasa, sehingga Pagar Alam bisa menjadi tujuan utama untuk menghabiskan akhir pekan di Sumatera Selatan,” ujar Najib.

Akses menuju Kota Pagar Alam semakin mudah, baik dengan menggunakan jalur darat maupun udara. Jika menggunakan  jalur darat, para pelancong dapat memilih mobil atau kereta api dari Palembang, yang berhenti di Lahat dan dilanjutkan perjalanan dengan mobil tak sampai satu jam. Jika ingin menggunakan pesawat, kini ada penerbangan langsung dari Palembang melalui Bandara Atung Bungsu.

Fasilitas akomodasi di kota ini juga sangat banyak, mulai dari hotel, vila, hingga homestay.  “Tersedia 380 kamar di Kota Pagar Alam. Ada hotel, vila, hingga homestay yang bisa dipilih untuk menikmati keindahan Kota Pagar Alam,” katanya.

Walikota Pagar Alam, Alpian Maskoni, menyambut baik kegiatan Pagar Alam Heritage Trail ini, terutama untuk mempromosikan Desa Adat Pelang Kenidai. Pelang Kenidai merupakan dusun yang dibangun oleh Puyang Serunting Sakti. Hingga saat ini, Pelang Kenidai masih menerapkan sistem adat dalam kesehariannya, terutama sistem jurai dengan kepala adat yang dikenal sebagai Jurai Tue.

“Terdapat enam belas rumah baghi yang dapat dikunjungi di desa ini. Di samping itu, berbagai atraksi menarik dapat disaksikan di temnpat ini.  Mulai dari tradisi pantauan, ngiroh kawe atau menyangrai kopi, hingga kerajinan dari akar bambu,” kata Alpian.

Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru juga menyambut baik acara Pagar Alam Heritage Trail ini. Menurutnya acara Pagar Alam Heritage Trail ini sesuai dengan prioritas program kerja Pemprov Sumsel, yang salah satunya adalah kebudayaan.

“Event ini sangat penting. Pagar Alam merupakan destinasi unggulan Sumsel dengan wisata budaya di samping wisata alamnya. Kita galakkan terus even seperti ini. Apalagi pesertanya adalah seluruh element masyarakat yang ada di Pagaralam dan beberapa peserta berasal dari Palembang bahkan ada 10 Turis Asing dari Singapura. Langsung atau tidak langsung, Pagar Alam Heritage Trail 2018 ini dapat menjadi ajang kesadaran budaya dan kesadaran sejarah. Insya Allah, generasi muda kita, kaum milenial, dapat memetik nilai-nilai budaya daerah untuk selanjuntya, sebagai dasar pembangunan mental yang paripurna.” (ofie)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.