Penyidik Diminta Profesional Tegakkan Hukum, Meski Tersangka Seorang Bhayangkari

0 588

PALEMBANG, Penasumatera.co.id –

Meski Penyidik telah menetapkan status Tersangka Atas dugaan penipuan dan pengelapan terhadap seorang Notaris berinisial S (45), sehingga korban Parman (42) warga Perumahan TOP Jalan Anggrek II Kelurahan 15 Ulu menderita kerugian mencapai Rp 1.012.000.000. Namun, proses hukum kasus ini terkesan terhambat. Kuasa Hukum korban Redho Junaidi SH MH dan Andika Andlan Tama SH menduga, karena status tersangka yang merupakan anggota Bhayangkari. Untuk itu pihak korban berharap hendaknya penyidik Reskrim Unit Harta Benda (Harda) Polresta Palembang profesional dan melaksanakan tugasnya sebaik mungkin sesuai prosedur kepolisian, Senin (5/8).

“Ya, terdapat ketidakadilan dalam Kasus Penipuan dan Pengelapan yang dilakukan oknum notaris berinisial S ini. Padahal statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Apa oleh karena notabanenya isteri perwira menengah polisi, sehingga perkara ini mengalami hambatan. Bahkan tindakan penahanan pun tidak dilakukan oleh penyidik, padahal ada kasus yang sama kerugian dibawah dari Rp 1 Miliar, itu langsung dilakukan penahanan,” terang Ridho saat diwawancarai sejumlah wartawan, Senin (5/8/2019).

Memang betul, tambah Ridho. Bahwa wewenang Penyidik untuk melakukan penahanan atau tidak terhadap tersangka. Tapi baiknya polisi pun melaksanakan tugasnya secara profesional.

“Jangan karena tersangka merupakan bhayangkari, hingga diberikan kebebasan. Sementara klien kami yang harus “mencicipi” ketidakadilan ini,” tegasnya.

Sementara Andika Andlan Tama SH, menyampaikan Apresiasi setinggi-tingginya atas kinerja penyidik dengan Menaikkan kasus ini dan Menetapkan Tersangka. Meski jalannya kasus ini belum jelas, walaupun sudah beberapa kali dilakukan mediasi.

“Dua kali dilakukan upaya mediasi, namun sampai saat ini belum ada kejelasan. Mirisnya lagi, itikat baik dari Tersangka S ini pun, tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Kejadian ini berawal saat korban membeli dua bidang tanah yang berlokasi di Jakabaring pada tanggal 10 Febuari 2016 sekitar pukul13.00 WIB. Kemudian, oknum notaris yang berkantor di Jalan Parameswara No 47 RT 03 RW 01 Kelurahan Bukit Baru Kecamatan Ilir Barat I, ini mengatakan bahwa tanah tersebut dalam masalah dan bersengketa, sehingga tidak bisa disertifikatkan atau juga dibalik nama.

“Sementara klien kami sudah membayar full, terlebih lagi pelaku (tersangka) ini meminta sejumlah uang pembayaran pajak sebesar Rp 62 juta. Kita sudah somasi, namun belum juga ada itikat baiknya,” ujarnya.

Terpisah, korban Parman saat dibincangi wartawan, berharap hendaknya penyidik tidak tebang pilih dalam proses kasus ini.

“Harapan saya agar bapak polisi dapat menegakan hukum sebaik-baiknya, jangan pilih kasih. Karena beliau Bhayangkari, dia (tersangka) bebas melakukan apa pun dan mengatur penyidik,” ungkapnya.

Sementara Tersangka S, ketika dikonfirmasi media ini melalui ponselnya (wa), mengatakan belum bisa memberi keterangan terkait perasalahan ini, dengan alasan belum ada koordinasi dengan kuasa hukumnya.

“Maaf saya belum bisa bicara, takut salah ngomong. Tunggu pengacara saya saja ya,” ujarnya. (agustin selfy)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Penasumatera