Sidang Kasus Dugaan Penipuan Dedi Dimulai

0 111

PALEMBANG, penasumatera.co.id – Kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh Tersangka M. Dedi Lukman Afrizal (27) warga Jalan Tanjung Rawa No. 3975 RT. 54, RW. 16 Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat Kota Palembang mulai disidang di Pengadilan Negeri Kelas 1A Palembang, Kamis (1/8/2019)

Pada Sidang Bernomor perkara 1152/Pid.B/2019/PN Plg. dengan Penuntut Umum M. Purnama, SH. terungkap Bahwa pada pada hari Senin tanggal 02 Juli 2018 sekira pukul 10.00 WIB, Terdakwa menemui saksi Dwi Tyas Poerbaya di Showroom milik saksi Dwi Tyas Poerbaya, kemudian Terdakwa meminta agar saksi Dwi Tyas Poerbaya meminjamkan modal untuk bisnis Terdakwa senilai Rp.390.000.000,- (tiga ratus sembilan puluh juta rupiah) dengan berkata “Om Dwi… Saya ini dapat proyek dari PT. Medan Smart berupa 5 paket alat-alat keselamatan (K-3) dan 1 paket tower… untuk paket K-3 satu paketnya sebesar Rp.58.000.000,- dan untuk paket tower sebesar Rp.100.000.000,-. Saya butuh uang dan saya akan memberikan keuntungan setiap paket k-3 sebesar Rp.15.000.000,- dan untung paket tower sebesar Rp.23.000.000,- kepada Om Dwi… Hanya dalam jangka waktu 1 bulan saja, Om Dwi percaya saja sama saya, saya tidak mungkin akan membohongi Om Dwi” dengan menunjukkan Kontrak Kerjasama antara Terdakwa dan PT. Medan Smart dan Terdakwa juga memberikan 5 (lima) lembar Bilyet Giro Bank BNI senilai Rp.488.000.000,- (empat ratus delapan puluh delapan juta rupiah) dengan tanggal jatuh tempo yang sudah Terdakwa isi sendiri kemudian Terdakwa juga menjelaskan bahwa uang keuntungan dan modal akan masuk dan bisa dicairkan sesuai dengan tanggal jatuh tempo yang tertera pada Bilyet Giro tersebut, hal tersebut dilakukan Terdakwa untuk meyakinkan saksi Dwi Tyas Poerbaya.

Namun kenyataannya, tidak ada kerjasama antara Terdakwa dan PT. Medan Smart dan Kontrak Kerjasama yang ditunjukkan oleh Terdakwa kepada saksi Dwi Tyas Poerbaya adalah buatan Terdakwa sendiri.

Karena perkataan Terdakwa dan surat-surat yang ditunjukkan Terdakwa sehingga membuat saksi Dwi Tyas Poerbaya percaya kepada Terdakwa. Kemudian saksi Dwi Tyas Poerbaya menyerahkan uang kepada Terdakwa sebesar Rp.390.000.000,- (tiga ratus Sembilan puluh juta rupiah) secara bertahap dengan cara transfer ke rekening Terdakwa dan juga menyerahkan secara tunai kepada Terdakwa.

Pada saat tanggal jatuh tempo yang tertera pada Bilyet Giro yang diserahkan Terdakwa tersebut, saksi Dwi Tyas Poerbaya menghubungi Terdakwa untuk mengkonfirmasi perihal pencairan Bilyet Giro tersebut dan dijawab oleh Terdakwa “Ya Mas, uangnya sudah ada, cairkanlah Mas”. Kemudian saksi Dwi Tyas Poerbaya pergi ke Bank BNI Cabang Sudirman untuk mencairkan Bilyet Giro, namun menurut keterangan pihak Bank BNI bahwa Bilyet Giro pada rekening tersebut uangnya tidak ada (saldo kosong), lalu saksi Dwi Tyas Poerbaya menghubungi Terdakwa perihal saldo kosong tersebut dan saat itu Terdakwa meminta saksi Dwi Tyas Poerbaya untuk bersabar dengan alasan Terdakwa akan menghubungi PT. Medan Smart dulu dan akan menanyakan mengapa uang belum masuk ke rekening, lalu meminta saksi Dwi Tyas Poerbaya tidak mencairkan Bilyet Giro tersebut dengan alasan jika dicairkan namun di rekening tidak ada saldo maka rekening tersebut akan diblokir dan terdakwa akan mengalihkan pembayaran kepada saksi Dwi Tyas Poerbaya secara tunai dan alasan Terdakwa tersebut membuat saksi Dwi Tyas Poerbaya percaya.

Selanjutnya karena Terdakwa juga belum bisa mengembalikan uang milik saksi Dwi Tyas Poerbaya, maka Terdakwa membuat Surat Pernyataan untuk mengembalikan uang milik saksi Dwi Tyas Poerbaya tersebut, hal tersebut dilakukan oleh Terdakwa dengan tujuan untuk mengulur waktu dalam pengembalian uang karena uang milik saksi Dwi Tyas Poerbaya tersebut tidak dipergunakan untuk untuk keperluan pekerjaan sebagaimana yang Terdakwa jelaskan kepada saksi Dwi Tyas Poerbaya karena Kontrak Kerjasama tersebut memang tidak ada, namun uang tersebut dipergunakan untuk keperluan pribadi Terdakwa.

Akibat perbuatan Terdakwa MGS. M. Dedi Lukman Afrizal menyebabkan saksi Dwi Tyas Poerbaya Bin Budianto mengalami kerugian dengan jumlah keseluruhan kurang lebih sebesar Rp.390.000.000,- (tiga ratus sembilan puluh juta rupiah).

Perbuatan Terdakwa MGS. M. Dedi Lukman Afrizal diatur dan diancam pidana Pasal 378 KUHPidana dan Pasal 372 KUHPidana.

Menanggapi persidangan hari ini, M. Arrahman selaku kuasa hukum terdakwa mengaku akan melakukan eksepsi. Dikarenakan ada sedikit kesalahan berita acara pada saat di Kepolisian.

“Kami akan mengajukan eksepsi, karena sedikit permasalahan pada saat berita acara dikepolisian, ditulis pengacaranya dari kepolisian.”

Lanjutnya, terdakwa sudah melakukan pembayaran sekitar 100 Juta lebih namun tidak bisa dilanjutkan pelunasan dikarenakan usaha yang dilakukan oleh terdakwa sedang bermasalah atau pailit.

“Sebenarnya sudah ada pembayaran, pembayaran ada bukti transfer, nanti akan kita munculkan itu.” Pungkasnya.(cakra)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Penasumatera