Terkait Sengketa Lahan, Herman Hamza Bantah Lahan Milik Kliennya Telah di Jual

0 21

LAHAT, penasumatera.co.id – Sidang kasus perdata sengketa lahan antara penggugat Mulyati dengan tergugat Martini di gelar di pengadilan Negeri Lahat, dengan agenda sidang mendengarkan keterangan saksi-saksi dari pihak penggugat.

Dalam sidang kali ini, pihak penggugat menghadirkan Empat orang saksi yang mengetahui asal muasal lahan sengketa yang terletak di Jaya Loka Kabupaten Empat Lawang.

Dari keterangan salah Satu saksi Pramono, saat persidangan memberikan keterangan bahwa, lahan seluas kurang lebih 2 Hektar yang di sengketakan itu ialah milik H. Ali Syawang yang diturunkan ke menantu Muhamad, yang merupakan suami Delima, dari yang ia garap pada tahun 2005 yang lalu. Pada saat itu dirinya di berikan amanah oleh H. Ali Syawang untuk membuka lahan itu menjadi kebun Karet.

“Waktu itu saya di suruh oleh H. Ali Syawang untuk membuka lahan itu agar di tanamai karet, dengan perjanjian setelah nanti hasilnya di bagi Dua, antara dirinya dengan H. Ali Syawang,” Terang Pramono di dalam persidangan.

Usai sidang, kuasa Hukum dari penggugat Herman Hamza.SH di dampingi Rumsi.SH menerangkan pada tahun 80an H.Ali Sayawang telah memiliki lahan tersebut, tetapi pada tahun 1986 saudari tergugat telah mengklaim bahwa lahan telah jadi miliknya atas dasar keluarnya surat jual beli antara H. Ali Syawang dengan tergugat Marini.

“Atas dasar surat jual beli itu tergugat mengklaim lahan itu miliknya. Padahal orang tua klien kami hanya meminjam uang sebesar Rp.2 juta,” Terang Herman Hamza.

Selain itu, Herman menjelaskan bahwa surat jual beli itu ilegal, karena menurutnya kliennya tidak pernah merasa menjual lahan itu kepada tergugat Marini yang ada hanya masalah hutang pinjam antara H.Ali Syawang dan tergugat Marini.

Sementara itu, Redi Setiadi SH selaku Kuasa Hukum dari tergugat Martini, membantah jika surat jual beli yang di miliki kliennya adalah ilegal, menurut Redi surat jual beli itu adalah sah.

“Lahan sengketa itu sah milik klien kami yang dibeli dari H. Ali Syawang pada tahun 1986 lalu, berdasarkan surat jual beli itulah klien kami berhak atas tanah seluas 2 hektar itu,” Ujar Redi. (D0d)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Penasumatera