Eks Terminal Sungai Hitam Rata, Puluhan Warga yang Terlantar Akan Datangi Kantor Walikota

0 67

KOTA BENGKULU, Penasumatera.co.id  Bangunan semi permanen berdinding papan di eks Terminal Sungai Hitam Kota Bengkulu yang diduga beralih fingsi menjadi Warung Remang-Remang (Warem) akhirnya rata dengan tanah, warga yang rumah dan usahanya ikut tergusur berencana akan mendatangi kantor walikota, Kamis (8/11) pagi, untuk menanyakan nasib mereka dan meminta toleransi ganti rugi bangunan yang sudah mereka dirikan.

“Sejauh ini kami tidak tahu penyebabnya alasan apa bangunan tempat kami berpuluh tahun tinggal diratakan begitu saja. Kalau soal diduga menyediakan wanita malam itu tidak benar seharusnya perlu ada pembuktian, apalagi warga di sekitar lokasi itu tidak ada yang resah. Memang sebelumnya pernah warga berdemo soal dijadikan sarang maksiat itu sudah puluhan tahun lalu, semenjak di demo sampai dengan sekarang tidak ada warga yang resah, ” Jelas Een salahsatu pemilik cafe yang ikut tergusur.

Ditambahkannya, untuk ruko ada sekitar 86 ruko semi permanen beralaskan papan, diantaranya ada sekitar 8 Cafe dan sisanya rumah berpenghuni.

“Kalau untuk Cafe kami selalu mengikuti aturan mulai pukul 20.00 tepat pukul 00.00 musik sudah dimatikan sesuai aturan, sebelumnya juga kami sudah melakukan rapat dengan Polsek, RT dan RW itu memang sudah hasil kesepakatan,” sampai Een.

Een didampingi puluhan warga juga sangat menyayangkan, untuk surat edaran yang di berikan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bengkulu tertera tanggal 5 November sampai 8 November 2018 agar segera mengosongkan ruko, yang menjadi pertanyaan warga disini kenapa waktu untuk pembongkaran di majukan pada Rabu tanggal 7 November 2018 ini.

“Jelas saat pembongkaran kami warga disini tidak tahu menahu secara tiba-tiba saja, mana lagi kita mau mengeluarkan barang, saya nyaris saja mati terkena cedok dengan alat berat milik PU. Parahnya lagi pada saat pembongkaran ruko terminal ini yang berlangsung pada Rabu (7/11) listrik masih dalam keadaan hidup untung saja tidak terjadi kebakaran,” ujar Een dengan wajah emosi.

Disisi lain ditanya soal kepemilikan bangunan, Een mengakui memang tanah dan bangunan milik pemerintah, awalnya dari yang punya pemilik petama pernah ngadap ke DPR untuk menempati dan diperbolehkan dengan catatan ruko harus tertata rapi dan dicat dengan warna sama intinya untuk mempercantik ruko, ya jelas kami melakukan perehaban dengan uang pribadi.

Pada intinya, lanjut Een, kedatangan kami kekantor Walikota besok (hariini-red), bukan untuk melakukan demo, tapi kedatangan kami puluhan warga meminta toleransi kepada Walikota dan Wawali untuk meminta ganti rugi bagaimana bangunan yang sudah kami percantik dengan mengeluarkan biaya puluhan juta dihancurkan dan lagi puluhan warga setelah dilakukan pengusuran tidak mempunyai tempat tinggal dan terlantar.

“Jangan mau enaknya saja, apabila tidak ada toleransi dan penyelesaian kami pemilik Cafe di Terminal Sungai Hitam ini tidak akan main-main dan akan buka-bukaan tentang uang setoran (keamanan) yang selama ini kami berikan,” sampainya.

Een juga menambahkan saat detik-detik pembongkaran sempat berbicara dengan Wawali dilokasi.

“Saya sempat berbicara dengan wawali meminta jika mau membongkar Cafe silahkan, tapi jangan rumah saya. Namun kata Wawali tetap tidak bisa, ia mengatakan dari kemarin sudah disampaikan,” ujar Een, meyampaikan Ucapan wawali dengannya. (yapp)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.